Selasa, 03 Juli 2012

[FF] Winter In Seoul -Chapter 1-

Hai SMTown Lover .....
Adaya kembali dengan FF baru ... kali ini cast-nya adalah member Shinee , F(x) , dan EXO .... Shinee back ,,teroret Shinee back .... teroret ...LOL ( niruin suara cempreng Minho ).

Setelah bertapa di Gua Hantu bareng Si Buta dan monyetnya saya kembali dengan ide ide baru . Hahahahha ...tapi sebenernya cerita kali ini gak jauh beda dengan dua FF saya sebelumnya . Sad dan Ironic . Saya suka tipikal Heroin yang keras kepala dan Hero yang Cool tapi soft di dalem # sotoy .....

Karena ini adalah FF pertama saya yang castnya selain anggota Super Generation Mian ya kalo agak jelek ,,,,,

Selamat membaca , Cium Peluk hangat dari Adaya .... :3

Title              : Winter In Seoul
Author          : Adaya Muminah Aljabar ( oe09@live.com )
Main Cast     :Choi Sulli (F(x)) , Lee Taemin (Shinee) , dan Kai (EXO)

Other Cast    : f(X) , EXO , SHINEE member
Type            : Chapter
Genre          : Romance, Sad  , Family, Friendship
Rating          : PG-17 ( All reader who Open mind )

Disclaimer : This story pure my imagined and my fantasy. All the Cast just belong to God but the story is my own. Hope you like it guys. Not for to copy and Please don’t be plagiator!









-Chapter 1 - 


Prolog 
 

Sulli POV –

            Rumah duka itu begitu sesak oleh orang berpakaian serba hitam. Suara rintihan dan tangisan haru membaur menjadi atmosfer yang menyeramkan dalam suasana senja. Semua mata memperhatikan gundukan tanah yang masih basah, di atasnya bertabur berbagai macam bunga mawar dalam warna yang berlainan . Semuanya sangat familiar di ingatanku , bau menyengat parfum orang –orang yang bergerombol yang memadukan kesuraman mendung. Ada apa ini? , sontak semua orang mengalihkan tatapanya kepadaku. Tatapan yang tajam, menusuk hingga terasa di tulang belakangku . Aku hanya mengernyit heran. Aku berusaha mencari wajah yang sudah ku kenal dari gerombolan orang ini. Tapi nihil, aku terus saja menembus kerumunan ini, untuk melihat gundukan tanah yang dari tadi menjadi pusat perhatian. Jarak satu meter dari gundukan itu aku mulai menemui sosok yang aku kenal, Lee Eomonim , matanya merah, air mata mengalir deras dari matanya yang ku kenal sering sekali tersenyum. Ada apa ini. Keherananku semakin memuncak, aku berusaha untuk menggapai pundak Eomonim untuk menanyakan semua keanehan ini, namun ada tangan besar yang menepis uluran tanganku. ” PEMBUNUH!!”, raung Lee Eomonim ke arahku . ” PEMBUNUH !!”, dia menajamkan pandangannya ke arahku. Aku semakin binggung , ada apa ini, tangan yang tadi menepisku kini mencengkram tubuhku dengan kasar. ” Lepaskan aku...lepaskan!!”, rontaku,” Eomonim,  Ada apa ini?? ”, tanyaku bingung. Tapi Eomonim hanya menekuri gundukan di depannya.” Taemin... Taemin”, rintih Eomonim, tubuhku mengejang . Perlahan aku tolehkan kepalaku ke arah gundukan itu. Ternyata itu bukan gundukan biasa, itu kuburan seseorang. Dengan perlahan pula aku eja nama yang tertera di nisannya...Lee Taemin...” TIDAKKKKKKK1!!”,
  


Author POV - 

Sulli merintih pilu dalam tidurnya. Tubuhnya basah oleh peluh. Nafasnya memburu, seakan dia telah berlari ribuan kilo meter. Tanganya mencengkram bed cover dengan sangat ganas. Semenit berikutnya peluhnya  megucur kian deras.                       
   Taemin ,,,Taemin,,,,!” matanya terpejam kuat, alisnya mengernyit  sampai berdempet satu sama lain. Mulutnya yang kering mencekat suaranya di tenggorokan.                          
 “ Tolong…tolong!!” tangannya kini terulur tak jelas kepada siapa.
Agasi ,,,agasi,,,,.”, sebuah suara membuat Sulli tersadar.
Terengah dan merasa kalah seakan semua energinya terkuras habis Sulli hanya bisa menatap lemah orang yang sedang berdiri di sampingnya. ” Agasi mimpi buruk lagi?”, ujar Bibi Oh dengan kernyitan kawatir menghiasi wajahnya. Tanganya memegang  segelas air yang kemudian di sodorkan ke Sulli.
Gamsamnida Omonim ! ”, ujar Sulli yang sedikit bisa menenangkan detak jantungnya . Bibi Oh masih menatap gundah ke arah Sulli. Kernyitan samara mengias alis Sulli yang tebal melihat ekspresi Bibi Oh yang gundah. ” Ada apa Eomonim ?”,
Tahu cepat atau lambat dia harus memberikan informasi ini Bibi Oh memulai dengan ragu “ Ehm ..Ehm ..Agasi , Tuan Choi ada di rumah…”, ujar Bibi Oh, kalimatnya menggantung. Sulli menatapnya dengan gusar, kedua alisnya terangkat.” Tadi malam , baru sampai.” sambungnya . Seketika Sulli membeku . Sulli terlihat tertekan .
“ Terimakasih sudah memberi tahu aku.”
“ Apa Agasi ingin sarapan di kamar?”, tawar Bibi Oh yang tahu kebiasaan majikannya .
Seulas senyum yang terkesan dipaksa terlukis di bibir Sulli, sejenak wajah kerasnya melunak. “ Seperti biasa bukan?”, tandas Sulli seraya turun dari ranjang. 
Bibi Oh hanya mengguk kecil seraya menuju pintu keluar.” Eomonim , tunggu!”, Suara Sulli menghentikan langkahnya. “ Aku sarapan di bawah saja, terimakasih. “ Wajah majikannya tak bisa dibaca, hanya sedikit siratan kepedihan yang dalam yang terlampau parah untuk ditutupi yang tersirat dari ekspresinya.
Bibi Oh tertegun sesaat kemudian melaju pergi meninggalkan Sulli dalam pikirannya sendiri.


  ************

 
Sulli menuruni tangga dengan gontai. Dikenakanya jas tidur yang semalam membalutnya dalam lelap. Matanya menerawang tak jelas. Kakinya memang berpijak pada tanah, namun anganya terbang jauh meninggalkan raganya.
Ruang makan serasa sepi. Meja besar berbentuk persegi yang terbuat dari batuan alam mengisi sebagian ruang makan. Delapan kursi dari bahan yang sama melengkapi setiap sudut meja. Berbagai hidangan telah tersedia di meja panjang itu, namun tak satu pun yang menarik perhatian Sulli . Dengan malas dia memilih sepotong macaroni panggang dengan topping jamur China. Sulli menusuk – usuknya dengan malas sebelum memakanya tanpa selera .
Seorang lelaki paruh baya memperhatikannya dengan tatapan nanar. “ Kau tak pergi sekolah hari ini?”, ujarnya kemudian.
Sulli menghentikan suapanya. Menatap ke pria paruh baya itu. Tatapannya sinis, ditujukan pada lelaki itu.” Apa aku tak salah dengar?”, cerca Sulli . Sendok dan garpunya sudah dicampakan ke meja. Kali ini nafsu makanya benar-benar amblas. “Kau tak sekolah hari ini ?” ujar Sulli membeo. “ Huh !” dengus Sull imenatap jijik kepada Appa-nya .” Sejak kapan kau jadi sok perhatian seperti itu ? ”, lanjut Sulli, lagi-lagi dengan nada mencerca.
Appa-nya hanya terdiam, wajahnya mengeras karena sikap Sulli yang tak sopan , “ Ada yang salah dalam hal ini?”, ujarnya dengan nada dingin. Alis Sulli mengernyit, ditatapnya lelaki tua itu dengan hujatan “ Kau benar-benar bajingan (sensor) tua.!!!!” , Sulli berdiri hendak meninggalkan ruangan.” Lalu kau apa?”, Appa-nya ikut bersuara. Langkah Sulli terhenti.” Tutup mulutmu!”, teriak Sulli, tanganya menuding kaku ke arah Appa-nya. Matanya berkilat penuh amarah. “ Ku ingin tahu aku ini apa? “ tantang Sulli . Suaranya bergetar dengan kepedihan yang menaun.
Sulli ,  bisakah kau bicara sopan padaku sekali waktu saja.” Pinta Appa-nya, wajanya melunak, menatap kemarahan Sulli.
“Siapa yang peduli ? Aku sudah muak dengan tingkahmu. Ruba munafik sepertimu membesarkan aku hanya untuk menutupi aib keluargamu, hah?”.
Sulli, tutup mulutmu. Kau…”
“ Ya, aku akan tutup mulut setelah aku puas memakimu.” Tantang Sulli, air matanya mulai mengucur dari matanya.
Apa tak cukup Eomma yang menjadi objek cari simpatimu. Kenapa aku juga harus menanggung budi mu! Aku benci kenyataan, kalau kau telah membesarkan aku dengan baik. Aku bahkan bukan darah dagingmu .!!”
Tuan Choi terpaku di tempatnya berada . Dia tahu ini adalah kenyataan yang sudah diketahui Sulli sejak lama .
 “ Kenapa kau masih mempedulikan aku. Kau membenciku , Tuan Choi . Aku tahu itu!! Jadi bersikaplah selayaknya kau membenciku. “ Sulli menangis terpekur di lantai . Dia malu berhadapan dengan orang yang paling dibencinya .
“ Bohong kalau aku bilang aku tak membencimu…..”
Sulli menghentikan isakannya, menatap ke arah Tuan Choi yang menerawang jauh. “ Sejak aku tahu kau bukan anakku, perasaanku padamu benar-benar sulit ku tafsirkan. Melihatmu mengingatkanku pada penghianatan Eommamu kepadaku. Hal ini menyiksaku selama sepuluh tahun terakhir. Tapi…”
Appa Sulli menggantung ucapanya.

“ Tapi, melihatmu mengingatkanku pada Eommamu yang sangat aku cintai. Seumur hidupku aku hanya mencintai dia. Kau sangat mirip denganya, aku membencimu tapi juga menyayangimu. Jadi, jika hal ini membuat kau tersiksa, maafkanlah aku.”
“ Kau kira aku tak tahu kebusukanmu di luar sana?”, ujar Sulli. Matanya kembali berkilat.
Taemin ,,,Lee Taemin. Kau pasti kenal nama itu !” Ujar Sulli , matanya menatap ke arah Appa-nya. “ Kau tentu kenal betul, kan siapa dia?”
Ekspresi Tuan Choi tiba-tiba berubah mendengar nama Lee Taemin disebut . Tatapan kasih yang tadi tersisa , kini menghilang dibalik kelabu kebencian . ” Kau sudah tahu rupanya.” , jawabnya dengan kasar.
“ Kau benar-benar picik. Kau tak ada bedanya dengan Eomma. Kalian sama-sama sutradara egois dalam pertunjukan boneka.”, Sulli tertawa getir. Tangannya mencengkram jas tidurnya. “ Kau bukan manusia Tuan Choi . Kau mengorbankan anakmu demi ambisimu. Kasihan sekali Taemin . Dia orang yang baik , tapi kenapa Tuhan mengirimnya padamu . “
Tuan Choi tertegun mendengar ucapan Sulli. “ Dia mati konyol demi aku. Ironis sekali bukan ?Anak yang kau sayangi itu mati demi gadis yang sangat kau benci. Yang begitu ingin kau musnahkan dari muka bumi ini. “
“…”
“ Cih, respon seperti apa itu ? Ayo tampar aku, pukul aku. Kau suka sekali kan melakukan semua itu kepadaku!!! Kenapa kau diam saja……….”, ujar Sulli getir saat menangkap kebungkaman Tuan Choi.
“Kau tak bias berkata-kata kan? Kau tahu apa yang dinamakan karma. Ini dia. Dosa mu dan Eomma , harus kami yang menanggung. Kau dan Eomma yang membuat aku dan Taemin berada dalam lingkaran hitam.” teriak Dela . Lukanya karena kehilangan Taemin begitu berkerak di hatinya . Dia membenci dirinya sendiri . Membenci kehidupanya . Membenci Tuan Choi yang membiarkanya hidup dengan nama keluarga Choi .
 Sulli maju selangkah mendekati Tuan Choi . Dia memegang kemejanya memohon agar hidupnya ikut diakhiri saja . “ Bunuh aku ... bunuh aku .... aku tak bisa hidup tanpa dia ..” , Sulli meraung sedih ,tanganya mengguncang Tuan Choi dengan kemarahan .
Plak
Sulli terdiam . Dia merasa pipinya memanas. Tangan Appa-nya masih terangkat di udara. Sulli melepaskan cengkramanya di kemeja Tuan Choi sebelum dia terduduk lemas di lantai . Matanya berkaca-kaca. “ Hentikan Sulli , hentikan ! . Berhentilah menyesali diri. Aku dan kau memang saling membenci. Tapi tidak bisakah kita memulai lembaran baru, yang lebih berarti. Yang lalu, adalah sebuah kesalahan. Tapi aku memohon dengan sangat padamu. Bisakah kita menjadi lebih baik demi orang-orang yang telah berkorban demi kita.
Sulli memandang Appa-nya dengan sedih , tatapnya melunak. Air matanya semakin deras. “ Aku hanya ingin bahagia…” rintihnya disela isakan tangisnya.

****************************

TBC 
Chapter 1 END 

Gimana  chingudeul FF nya susah di mengerti ya ? LOL . Maaf ini memang agak berat dan sulit di cerna . Tapi saya suka cerita seperti ini . Betema keluarga dan percintaan . Saya suka dengan konflik konflik dalam persahabatan dan keluarga . :)

Semoga SMTlover menikmati Winter in seoul ini ya ...Kai memang belum muncul dalam Chapter ini , di chapter dua baru akan terungkap kenapa Sulli begitu membenci ayahnya ( walau disini sudah ada clue ) , tapi siapa Taemin ? Kenapa dia begitu bearti bagi Sulli ? Dan siapa Kai ?

Semua ada di Chapter dua ....

Maaf jika ada Taypo bertebaran ya Nggu , Oh ya Don't be silent reader dong yah ,,,Kritik dan saran kalian sangat saya butuhkan untuk menjadikan FF ini lebih baik ....

Bye Bye

Peluk Cium Hangat dari Ibrahim Afelay ... :* 


2 komentar:

  1. annyeong aku member baru disini ^^
    ffnya keren banget bikin penasaran, cepet dipublish kelanjutannya ne!
    aku harap nanti endingnya KaiLli ^^
    Good Job thor! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gumawo sudah mampir ...ditunggu ya Chingu , karena mungkin Adaya masih akan menyelesaikan FF yang lain dulu sebelum melanjutkan ini . Mian , Adaya juga perluh pendalaman karakter Kai dan Sulli :)

      Hapus